Tata Nilai Perawat Care, Empathy, dan Altruism

Assalamu’alaikum wr wb

Disini saya akan menjelaskan mengenai tata nilai perawat. Semoga bermanfaat 🙂

Menurut teori Henderson, profesi perawat merupakan profesi mandiri membantu individu baik dalam keadaan sakit maupun sehat, dengan berbagai upaya guna mendukung kesehatan dan penyembuhan individu atau proses meninggal dengan bermartabat. Pelayanan asuhan keperawatan berbeda dengan dokter, perawat memandang manusia secara utuh sehingga dalam memberikan pelayanannya, perawat harus memiliki tata nilai keperawatan yang dapat mendukung dalam melaksanakan asuhan dan pelayanan kesehatan kepada klien. Tata nilai tersebut yaitu care, empaty, dan altruism. Sebelum membahas care,empaty, dan altruism kita harus mengetahui apa itu tata nilai.

Secara bahasa tata artinya mengatur sedangkan nilai adalah harga atau kualitas sesuatu. Nilai dijadikan landasan, alasan, atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku, baik disadari maupun tidak. Nilai dapat juga diartikan sebagai sifat atau kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik lahir maupun batin.

Tata nilai adalah tindakan dan perilaku seseorang dalam menjalankan tugasnya. Jadi tata nilai perawat adalah tindakan dan perilaku seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatannya seperti dalam pengambilan keputusan. Watson (1981,hlm.20-21) menjabarkan empat nilai penting dalam keperawatan yaitu :

  1. Komitmen yang kuat terhadap layanan
  2. Menghargai harkat dan martabat setiap orang
  3. Komitmen terhadap pendidikan
  4. Otonomi peofesional

Tata Nilai Perawat yaitu : Care, Empaty, Altruism

  1. Care

nursesa. Definisi

Menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979), care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, menjaga dan mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. Berdasarkan pemahaman tersebut ternyata seorang yang berperilaku caring harus mempunyai ilmu tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri sehingga kita mampu mengenal orang lain. Watson yang terkenal dengan Theory of Human Care, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungai pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.

Caring dapat diartikan sebagai suatu bentuk kepedulian bagi orang lain. Kepeduliaan itu dapat ditunjukan melalui perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan (Potter & Pery, 2005 ). Selain itu, caring dapat mempengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perbuatan seseorang.

Caring adalah suatu proses yang memberikan kesempatan pada seseorang untuk pertumbuhan pribadi ( Mayeroff, 1972 ). Caring menurut Mayeroff ini tidak dibatasi di sebuah klinik atau lingkungan keperawatan kesehatan tetapi juga dalam hubungan personal, interpersonal, keluarga, spiritual, terapeutik, emosional dan seterusnya. Aspek utama caring menurut mayeroff meliputi : pengetahuan, kesabaran, kejujuran, rasa percaya, penggantian irama, kerendahan hati, harapan, dan keberanian.

Mengapa perawat harus care ?

  • Aspek Kontrak

Perawat memiliki tugas profesional untuk memberikan pelayanan care. Care yang di lakukan oleh seorang perawat berbeda dengan yang di lakukan kru kabin atau staf hotel. Caring yang di lakukan perawat merupakan salah satu pelayanan terapeutik, tetapi sebagian masyarakat banyak yang menilai bahwa perawat itu judes dan jutek. Masalah tersebut biasanya terjadi pada perawat yang tidak melakukan pekerjaannya dengan tulus karena ketulusan adalah sesuatu hal yang alami sementara pendahuluan yang didasari oleh motif keuntungan menyebabkan proses kerja yang tidak alami, selain karena ketidak tulusan caring juga tidak bisa spontan,caring bisa dilakukan oleh orang yang memang terbiasa dengan sikap tersebut.

  • Aspek Etika

Menurut teori Kant alasan kita harus care adalah karena kita berharap untuk mendapatkan care. Kita juga akan berharap bahwa care dapat diperluas ke semua orang yang kita kenal dan kita cintai. Kiranya, kita tidak akan ingin hidup dalam dunia yang tidak ada seorang pun yang care terhadap orang lain, dengan demikian caring menjadi etika yang sangat penting untuk setiap orang.

  • Aspek Spiritual

Perawat yang “ religius ” adalah orang yang care, bukan karena dia seorang perawat tetapi lebih karena dia adalah anggota suatu agama dan kepercayaan. Sebagian besar agama mempunyai kode perilaku,biasanya tertulis dalam kitab suci yang merekomendasikan untuk care kepada orang lain. Dalam kasus ini adalah dengan mengikuti ajaran agama tersebut dengan merujuk pada kode perilakunya. Dalam hal ini, pandangan agama tentang caring sangat terkait erat dengan pandangan moral tentang caring.

b. Faktor yang mempengaruhi caring

  1. Keluarga

familyKeluarga merupakan tempat terbentuknya karakter seseorang, apa yang dilakukan di lingkungan keluarga menjadikannya sebagai contoh dan biasanya dijadikan kebiasaan. Kegagalan dalam keluarga pun dapat menjadikan permasalahan dalam perkembangan anak yang akan tumbuh dewasa.

  1. Keadaan sosial

tTidak semua keluarga dan tetangga bersedia atau siap untuk memberikan dukungan, pengertian, dankasih sayang bagi orang yang membutuhkan perawatan mungkin memerlukannya. Orang yang terkena mungkin sama terisolasi dan sendirian di rumah dengan keluarga atau teman-teman dekat karena jika keluarga dan teman-teman kembali jauh. Dalam situasi ini, beberapa orang tua dan anak-anak dapat diabaikan bahkan dilecehkan.

(Rodriques et al,1996.).

3. Keadaan ekonomi

kasus-hukum-ekonomiDisadari atau tidak keadaan ekonomi mempengaruhi tumbuhnya perilaku caring. Di dalam keluarga kelas menengah atas pun, faktor ekonomi membatasi penyediaan kuantitas dan kualitas kepedulian mereka. Bagi pekerja mungkin sulit untuk memberikan rasa caring secara langsung kepada keluarga. Mungkin disebabkan oleh beberapa faktor dalam pekerjaanya.

  1. Keadaan Pelayanan Kesehatan Modern

ICU-edit       Pelayanan kesehatan di zaman sekarang ini sudah mengalami peningkatan, sudah banyak teknologi maupun obat yang memungkinkan dalam proses penyembuhan,sehingga hal tersebut dapat mengurangi interaksi antara pasien dan tenaga medis. Adanya perubahan dalam organisasi, pembiayaan dan pemberian perawatan medis, dan laboratorium modern, teknologi diagnostic dan terapeutik, memiliki efek besar pada kesempatan dan waktu yang tersedia untuk ahli medis untuk memberikan dukungan, kasih sayang, dan pemahaman bahwa pasien yang paling membutuhkan dan ingin menerima. Banyak dokter ingin memberikan perawatan belas kasih untuk pasien mereka, akan tetapi urgensi praktek medis ini sering membuat hal ini menjadi mustahil. Perawat, pekerja sosial, dan perawatan kesehatan lainnya profesional yang bekerja di kantor-kantor dokter, klinik, rumah sakit, yang lebih mampu memberikan dukungan kepada pasien.

Contoh kasus caring
Ny. Y seorang pasien kanker payudara akan menjalani operasi payudaranya, Ny. Y dan keluarga sangat khawatir dengan resiko yang akan Ny. Y hadapi setelah operasi. Meskipun perawat tahu bahwa operasi pasiennya beresiko, ia mengatakan pada pasiennya untuk tidak khawatir dan menekankan aspek-aspek positif menjelang operasi. Ia melarang pasiennya berpikir terlalu banyak mengenai risiko operasi dan umumya mendorong pasien untuk berpikir cepat sembuh; mereka selalu sangat cemas karena mereka begitu dekat dengan operasi besar, dan perawat hanya ingin meringankan kecemasan mereka.

  1. Empathy

empathy-9550064_l

Empathy adalah sikap ikut merasakan kehidupan orang lain.Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif, dan tidak dibuat-buat (objektif) didasarkan pada apa yang dialami orang lain. Empati berbeda dengan simpati. Simpati merupakan kecenderungan berpikir atau merasakan apa yang sedang dilakukan atau dirasakan orang lain.

Empati dalam keperawatan

Empati sangat dibutuhkan oleh seorang perawat dalam melaksanakan komunikasi terapeutik. Setiap perawat mempunyai kesempatan untuk mengembangkan perasaan ikut merasakan apa yang dihadapi pasien. Kesanggupan untuk menyelami kehidupan orang lain diperoleh dari adanya suatu kepedulian yang tulus atau dengan kata lain timbul karena adanya kebutuhan untuk dapat melakukan sesuatu kepada orang lain dan dapat berarti bagi orang tersebut.

Sikap ikut merasakan penting bagi suatu asuhan yang baik. Perawat akan lebih mudah mengatasi nyeri pada pasien,jika dia mempunyai pengalaman yang sama tentang nyeri. Ini memberikan kepada pasien suatu perasaan harga diri baginya. Oleh karena ikut merasakan, pasien merasa bahwa dirinya itu dihargai. Ia merasa bahwa dirinya dimengerti dan merasakan bahwa ada seseorang yang mendengarkannya dan menaruh perhatian padanya. Hal ini dapat menciptakan suatu reaksi yang lebih baik hingga memungkinkan mengemukakan berbagai emosi hingga jelas. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian buruk tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.

Frekuensi interaksi perawat dengan pasien tergolong paling sering dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang lainnya, maka keberadaan perawat di rumah sakit sangat penting pula dalam memegang peranan atas kelangsungan kondisi pasien. Perawat berkeharusan bersikap baik dan santun kepada seluruh pasien, baik itu bayi yang baru lahir sampai orang lanjut usia sekalipun. Bukan hanya kepada pasien seorang perawat bersikap baik tetapi juga kepada keluarga pasien, karena keluarga memberi peranan penting dalam psikis pasien. Sikap ini didasarkan pada pemikiran, pilihan sikap yang benar dan tepat dalam segala situasi, yaitu tempat dan waktu. Perawatan yang efektif mencakup pemberian perhatian kepada kebutuhan emosi sang pasien dan keluarga. Sikap perawat kepada pasien disesuaikan dengan usia pasien. Hal ini menguatkan bahwa kemampuan untuk dapat berempati sangat diperlukan sekali oleh perawat agar perawatan lebih efektif.

Cara meningkatkan sikap empati yaitu :

e664c78a733ed0d265bc5c8a5b3917e6

  • Menumbuhkan pemahaman dan perasaan dari dalam jiwa kita
  • Menanamkan tekad dari dalam hati untuk mengutamakan kepentingan orang lain
  • Memiliki kerendahan hati, kesediaan berbagi kebaikan dengan orang lain.
  • Memiliki kesediaan hati berbagi kegembiraan dengan orang lain dissat kita mendapatkan kemenangan dan memberikan dorongan disaat mengalami kesulitan.

Contoh kasus empathy

Ny N adalah seorang pasien lansia yang di rawat di RSHS, dia menderita penyakit katarak. Ketika dia akan buang air kecil, dia kesusahan untuk berjalan ke WC, seorang perawat yang melihat kejadian tersebut merasa empati dan bergegas membantu Ny N ke WC.

  1. Altruism

altruism

Altruisme adalah sikap mementingkan kepentingan dan kesejahteraan orang lain diatas kepentingan pribadi. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.

Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme adalah memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu, seperti Tuhan, raja, organisasi khusus, seperti pemerintah,atau konsep abstrak, seperti patriotisme, dsb. Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan.

Pendapat beberapa ahli tentang altruism :

Menurut Walstern, dan Piliavin (Deaux, 1976). Perilaku altruistik adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat suka rela dan tidak berdasarkan norma–norma tertentu, tindakan tersebut juga merugikan penolong, karena meminta pengorbanan waktu, usaha,uang dan tidak ada imbalan atau pun reward dari semua pengorbanan.

Menurut Sears dkk (1994). Altruisme adalah tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok orang untuk menolong orang lain tampa mengharapkan imbalan apa pun, kecuali mungkin perasaan

telah melakukan perbuatan baik.

Menurut Macaulay dan Berkowitz,( 1970).Altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga sebagai tindakan tanpa pamrih. Altruisme dapat juga didefinisikan tindakan memberi bantuan kepada orang lain tanpa adanya antisipasi akan reward atau hadiah dari orang yang ditolong.

Altruisme adalah keadaan motivasional seseorang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain (Batson, 1991).

Menurut Baston (2002), altruisme adalah respon yang menimbulkan positive feeling, seperti empati. Seseorang yang altruis memiliki motivasi altruistic, keinginan untuk selalu menolong orang lain. Motivasi altuistik tersebut muncul karena ada alasan internal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain. Dua alasan internal tersebut tidak akan memunculkan egoistic motivation ( egocentrism ).

Tiga teori yang dapat menjelaskan tentang motivasi seseorang melakukan tingkah laku altruisme adalah sebagai berikut:

  1. Social-exchange

Pada teori ini, tindakan menolong dapat dijelaskan dengan adanya pertukaran sosial timbal balik. Altruisme menjelaskan bahwa imbalan yang memotivasi adalah inner- reward (distress). Contohnya adalah kepuasan untuk menolong atau keadaan yang menyulitkan untuk menolong.

  1. Social Norms

Adanya tanggung jawab sosial, dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan menolong karena dibutuhkan dan tanpa mengharapkan imbalan di masa yang akan datang.

  1. Evolutionary Psychology

Tingkah laku altruisme dapat muncul apabila yang akan disejahterakan merupakan orang yang sama (satu karakteristik ).

Contohnya seseorang menolong orang yang sama persis dengan dirinya, keluarga, tetangga, dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas, Myers ( 1996 ) menyimpulkan altruisme akan dengan mudah terjadi dengan adanya :

  1. Social Responsibility, seseorang merasa memiliki tanggung jawab sosial dengan yang terjadi di sekitarnya.
  2. Distress – inner reward, kepuasaan pribadi tanpa ada faktor eksternal
  3. Kin Selection, ada salah satu karakteristik dari korban yang hampir sama.

Contoh Kasus Altruism

Di perjalanan pulang kerja dari rumah sakit seorang perawat melihat anak jalanan yang sedang berkerumun di pinggir jalan sambil histeris, perawat itu pun langsung melihat dan masuk ke kerumunan tersebut, ternyata di dalam kerumunn tersebut ada salah seorang anak jalanan keracunan dia menggeliat kesakitan.melihat hal tersebut tanpa merasa lelah dia langsung memberi pertolongan pertama menggunakan peralatan dan obat yang dia punya tanpa mementingkan kebutuhannya sendiri.

Sekian pembahasan mengenai tata nilai perawat, semoga bermanfaat dan menjadikan kita perawat-perawat hebat yang bisa diakui dunia,, amiin 🙂

Reference

Burnar , Philip dan Paul Morrison. 2008. Caring & Comunicating. Jakarta. EGC

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawtan. Jakarta : EGC (Google book).

Eko Jalu Santoso (2010). Life Balance Ways. From http://books.google.co.id/books?id=R-RPNyKknvMC&pg=PT257&dq=cara+meningkatkan+empati&hl=id&sa=X&ei=gz9_VK_fOcSxuAStmYG4CA&redir_esc=y#v=onepage&q=cara%20meningkatkan%20empati&f=false. (diakses pada tanggal 6 Desember 2014).

J. M. Stevens, F. Bordui, J. A. G. Van der Weyde (edisi 2). Ilmu Keperawatan. From http://books.google.co.id/books?id=W59pjMqIUGoC&pg=PA55&dq=empati+perawat&hl=id&sa=X&ei=WCl_VMLmM82OuATR4YGgDw&redir_esc=y#v=onepage&q=empati%20perawat&f=false. (diakses pada tanggal 6 Desember 2014).

Arwani (2003). Komunikasi dalam Keperawatan. From http://books.google.co.id/books?id=IGLiWryo0GMC&pg=PA57&dq=empati+perawat&hl=id&sa=X&ei=4yt_VLf6H8GSuASliIDYDA&redir_esc=y#v=onepage&q=empati%20perawat&f=false. (diakses pada tanggal 6 Desember 2014).

agresi dan altruisme – agresi_dan_altruisme.pdf. From http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/agresi_dan_altruisme.pdf. (diakses pada tanggal 5 Desember 2014).

SKRIPSI SUGESTI MANUA – jtptunimus-gdl-sugestiman-5282-3-bab2.pdf. from http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdl-sugestiman-5282-3-bab2.pdf. (diakses pada tanggal 5 Desember 2014 ).

ALTRUISME DAN AGRESIFISME | Rahmad Khodari – Academia.edu. from https://www.academia.edu/4110224/ALTRUISME_DAN_AGRESIFISME. ( diakses pada tanggal 8 Desember 2014 ).